Bina Pemukiman Baru (2)

Melanjutkan Bina Pemukiman Baru (1)

2. Teknis Pembinaan Pemukiman Baru
2.1. Pendekatan Secara Fisik
Pendekatan secara fisik antara lain dengan menilai kelayakan peruntukkan lahan, aksesbilitas dan kapasitas daya dukung calon lokasi pemukiman tetap (huntap), mengkaji status kepemilikan lahan serta kemungkinan munculnya konsekuensi perubahan status kepemilikan lahan serta mengkaji regulasi dan kebijakan terkait dengan rencana pemanfaatan calon lokasi pemukiman baru.

Pendekatan secara fisik dilakukan dengan meninjau pemukimam tetap (huntap) yang baru dibangun. Bangunan di pemukiman yang baru haruslah memenuhi kriteria antara lain tahan gempabumi mengingat daerah Mentawai merupakan daerah yang sangat rawan terhadap bencana gempabumi. Kriteria huntap haruslah berada pada zona aman (ketinggian > 25 meter di atas permukaan laut mengingat potensi tsunami yang cukup besar di daerah Mentawai.

Pendekatan fisik lainnya antara lain melalui langkah-langkah untuk menghindari kemungkinan terjadinya kebakaran maupun keruntuhan bangunan sebelum waktunya yang dapat menimbulkan kerugian besar pada lingkungan pemukiman dan membahayakan banyak jiwa manusia. Pendekatan ini akan lebih lengkap apabila dibarengi dengan pembangunan prasarana air bersih dan penyehatan lingkungan, perbaikan sistem pembuangan sampah, pembuangan air rumah tangga, dan pembuangan air hujan dalam lingkungan. Selain untuk meningkatkan mutu kehidupan rakyat juga mengarah pada terwujudnya lingkungan hidup yang sehat.

Pembinaan penyehatan lingkungan pemukiman baru hendaknya dititik beratkan kepada pembinaan swadaya dan swakelola masyarakat dengan meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan warga untuk mempergunakan bahan-bahan bangunan setempat dengan sehemat-hematnya. Rumah-rumah sehat yang didasarkan pada pola arsitektur tradisional yang baik diharapkan dapat dikembangkan di pemukiman baru tentunya dengan mendapatkan bimbingan teknis.

Dengan pendekatan fisik tersebut diatas paling tidak akan banyak mengurangi potensi korban jiwa dan kerugian material lainnya apabila bencana gempabumi / tsunami kembali melanda daerah Mentawai. Dengan pembangunan prasarana air bersih dan penyehatan ling-kungan, perbaikan sistem pembuangan sampah, pembuangan air rumah tangga, dan pem-buangan air hujan dalam lingkungan akan meningkatkan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat. Selain itu akan meningkatkan mutu kehidupan rakyat juga me¬ngarah pada terwujudnya lingkungan hidup yang sehat. Hal ini mempunyai arti penting bagi kegairahan berproduksi, kestabilan sosial, ekonomi dan kebudayaan yang mempunyai pengaruh positip bagi kelangsungan pembangunan pada umumnya

 2.2. Pendekatan Secara Biologis
Pendekatan secara biologis dilakukan dengan melakukan langkah antara lain hunian tetap (huntap) korban tsunami Mentawai hendaknya tidak terlalu jauh dari lokasi hunian sementara (huntara) sehingga perladangan yang telah digarap masyarakat tetap dapat dimanfaatkan dan tidak jauh. Akses terhadap lokasi – lokasi lama hendaknya tersedia dengan baik sehingga mata pencaharian masyarakat dilokasi hunian baru tetap tersedia dengan baik. Diperlukan peninjauan ulang sejauh mana mata pencaharian yang lama masih diminati oleh masyarakat di pemukiman baru. Kecenderungan untuk alih profesi dimungkinkan pula apabila masyarakat menghendaki dan lingkungan serta sumberdaya alam mendukung bagi mata pencaharian yang baru tersebut.


2.3. Pendekatan Secara Kultural / Budaya
Pembinaan lingkungan pemukiman baru dititik beratkan kepada pembinaan swadaya masyarakat untuk membina pemukiman baru yang sehat dengan memperhatikan adat, tradisi, dan pandangan-pandangan hidup masyarakat yang telah ada. Pengelompokan penduduk harus mempertimbangkan aspek dusun yang telah ada sehingga tidak merusak tatanan pemerintahan ditengah masyarakat seperti nama desa/dusun, agar tidak menghilangkan nama dusun sebelumnya. Dengan cara ini suatu pemukiman desa yang sehat, beraneka-ragam dan menunjang norma-norma kehidupan sosial yang produktif dapat dikembangkan secepat-cepatnya. Pembinaan berupa langkah pencerahan bahwa daerah Mentawai merupakan daerah dengan tingkat risiko gempabumi dan tsunami yang sangat tinggi perlu dilakukan sehingga masyarakat di pemukiman yang baru benar-benar memahami konsekuensi tinggal di daerah tersebut. Pembinaan ini dapat dilakukan baik secara formal melalui struktur pemerintahan maupun jalur-jalur informal antara lain lewat kelompok-kelompok masyarakat, LSM dan lain sebagainya. Dengan demikian pemahaman tentang risiko gempabumi maupun tsunami merupakan bagian lingkungan kehidupan mereka di pemukiman yang baru.

0 comments:

Post a Comment